Kerajaan Islam Cirebon didirikan sekitar tahun 1430 M oleh Pangeran Cakrabuana/Walang Sungsang putra Pangeran Prabu Siliwangi raja Pajajaran Hindu yang masuk Islam.
Kemudian dilanjutkan oleh Sunan Gunung Jati/ Syarif Hidayatulloh, yang tidak lain adalah ponakan dan menantunya.
Sultan Gunung Jati/ Hidayatulloh adalah seorang "Syarif" cucu Rosullulloh yang ke 19, bapaknya Syarif Abdulloh, ibunya Ny Larasantang adik Cakrabuana.
Pangeran Cakrabuana dan Sn. Gunung Jati seorang figur tokoh yang serupa seperti Nabi Muhammad Saw di Madinah, dimana keraton adalah pusat segalanya, pemerintahan dan dakwah islamiyah tempat beliau mengajar.
Beliau mendirikan kerajaan juga di Banten yang diserahkan kepada putranya Sultan Hasanuddin.
Semenjak itu julukan "Syarif" ditinggalkan, yang dipakai julukan kekratonan, seperti Pangeran, Sultan, Raden, Elang, Ratu dst.
Sn Gung Jati dan Slt Hasanuddin adalah anggota dari kesatuan "Wali Sanga" yang jumlahnya 20an lebih, masa baktinya 100 th (abad 15 M - 16 M) kalau ada yg meninggal diadakan pemilihan lagi, Slt Hasanuddin termasuk anggota wali sanga periode terakhir. Setelah itu tidak ada lagi istilah Wali Sanga.
Setelah Sn Gunung jati wafat diteruskan oleh anak-cucunya sampai dengan sekarang.
Pada zaman penjajahan abad ke 17 M keraton dikuasai oleh Belanda. Dengan politik "defide et emperanya" Belanda memecah kerajaan Cirebon menjadi tiga kerajaan Kesepuhan, Kanoman dan Keprabonan.
Kesepuhan pusat pemerintah dikuasai oleh Belanda dg rajanya seorang anak putri keraton dan bersuami Belanda Alexander, kerajaan yang lainnya adalah panutan rakyat.
Pada tahun 1750 M salah seorang putra mahkota Kerajaan Kanoman "Mbah Muqoyyim' keluar dari kraton karena tidak senang dg kehidupan di kraton dan tidak mau berkooperasi dg Belanda.
Beliau bertempat di Buntet timur Cirebon sekitar 10 km an dari Kraton.
Beliau melepaskan atribut kekratonan dan dijuluki atau dipanggil "kiai". Semenjak itu lah dakwah islamiyah berpindah ke Buntet, sekaligus sebagai benteng perlawanan thd Belanda.
Kraton hanyalah pusat pemerintahan, apalagi sekarang hanyalah sebatas peninggalan budaya dan sejarah, tapi tetap di dalamnya masih ada para raja/sultan sebagai penerusnya secara turun temurun.
Selanjutnya Buntet dikenal sebuah pesantren dengan dua saudaranya ponpes Benda Kerep dan Gedongan.
Tokoh Buntet yang sekarang sedang viral adalah Gus Abbas (dengan PWI LS nya) cucu dari KH Abbas, salah satu pahlawan pencetus resolusi pecahnya perlawanan agresi 10 November.
Dapat dikata para pengasuh ponpes di wilayah Cirebon adalah keturunan Sn Gunung Jati dengan meninggalkan baik gelar "Syarif" maupun atribut kekratonan, mereka lebih kental dipanggil "kiai" dan "nyai" untuk yg perempuannya.
Ponpes Gedongan didirikan tahun 1880 M oleh KH Muhammad Said cucu dari Mbah Muqoyyim. Tokoh yang dikenal adalah KH Said Aqil Siroj bin Said mantan ketua PBNU.
Sekarang dipangku oleh generasi ke tiga, saya sendiri pendiri Al Shighor adalah generasi ke empat.

